Camping Tanpa Izin Di Situ Cileunca Bandung

Weekend tiba, tau lah saatnya untuk apa. Jalan-jalan! Yeah, kali ini ke tempat yang udah sangat gak asing lagi buat saya, Bandung, tempat di mana masa-masa dusta, maksiat, dan segala hingar bingar pendewasaan bermula. Oke tapi kali ini bukan bahas soal masa kelam durjana yang udah lewat, saya akan cerita soal pengalaman camping yang saya lakukan beberapa weekend lalu di Situ Cileunca, Pengalengan, Bandung; bersama sobat Instagram yang juga hobi traveling, yaitu Heri, Gerry, Irfan, dan Satria.

Situ Cileunca
Rute Menuju Situ Cileunca

Perjalanan dimulai dari Bandung dengan menggunakan motor. Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam (start jam 7 malam, sampai jam 9an malam) untuk bisa sampai ke Situ Cileunca. Soal rute, kayaknya gampang lah ya tinggal buka google maps dan cari Situ Cileunca, so kita pun udah bisa ke sana tanpa harus tanya-tanya orang lain lagi.

Enaknya pergi malem ya gini nih, kita masuk kawasan Situ Cileunca gak mesti bayar kayak biasanya karena penjaganya udah pada masuk rumah masing-masing, saatnya mereka bertugas menafkahi istri & anak-anak.. aw aww.

Situ Cileunca
Tenda camping kami di Situ Cileunca

Segala tenda dan perlengkapan camping, kami sewa di Green Camp Rental Camping di kawasan Cikutra, Bandung, lebih tepatnya di Jl. Gagak. Well, di sekitaran sini sebetulnya ada banyak toko rental alat outdoor dan kalian bisa pilih mau sewa di mana, cuma ya kalo saya udah cukup berlangganan sama Green Camp jadi memilih untuk setia aja.

*Kontak Green Camp: 022-2517601 atau WA: 08997898894

ALAT YANG KAMI SEWA DAN HARGA (per Agustus 2017):

  • Tenda kapasitas 2-3 orang = Rp30,000/tenda/malam
  • Tenda kapasitas 3-4 orang = Rp40,000/tenda/malam
  • Lentera = Rp15,000/malam (2 buah)
  • Sleeping Bag = Rp5,000/buah/malam
  • Matras Aluminum Foil = Rp5,000/matras/malam
  • Kompor = Rp10,000/malam
  • Gas = Rp20,000/tabung

Kondisi badan gak fit banget kali ini, tapi sebagai travel influencer panutan harus selalu siap dan bisa bawa suasana ya.. ciyeelah.. So, setelah semua perkakas tenda rampung, saya bobo manja aja, sedangkan yang lain entah ngapain di luar sana.

Well, pagi-pagi buta, suhu memang dingin banget di sini, kami bangun untuk foto-foto cantik uhlala. Here we go:

Processed with VSCO with l3 preset
Situ Cileunca dari dalam kapal
Processed with VSCO with c7 preset
Sunrise di Situ Cileunca
Processed with VSCO with c7 preset
Menyambut matahari pagi situ Cileunca

Oke, kesimpulannya karena kita dateng malem-malem gak diundang dan gak bayar pula, so gak recommended banget buat kamu ikutin perjalanan kita kek gini ya gengs. Pagi-pagi buta ketawan lah ada 2 tenda bertengger di belakang tulisan gede “SITU CILEUNCA” yang katanya gak boleh dan super terlarang banget dibuat camping, alhasil kita jadi bayar denda.. wkwk.. But, overall karena kita jalan ramean jadi oke lah dengan segala kekhilafan ini.

Processed with VSCO with c7 preset
Teletubbies Situ Cileunca, difotoin @francescology

Saran saya, udah dari sore kamu ke tempat ini dan urus segala perizinan jadi camping bisa lebih tenang dan mungkin dikasih tau tempat yang boleh dijadiin perkemahan atau enggaknya ya. So far, spot di sini oke banget kalo mau hunting foto bintang dengan gugusan galaksi yang kece banget asal gak berkabut dan cuaca mendukung.

Ada lagi spot kece lain untuk camping di Bandung selain di sini?

Weekend Trip Ke Pulau Sangiang – Keindahan Tersembunyi Di Selat Sunda

Weekend, selalu menjadi saat yang paling tepat untuk melepas penat dengan traveling ala ala backpacker, setuju? Nah, liburan itu gak mesti jauh-jauh ya gengs, dari Jakarta dan dengan uang yang gak banyak-banyak banget nih, weekend akhir bulan di Agustus 2016 lalu saya habiskan dengan liburan singkat selama 3D2N ke Pulau Sangiang, Banten.

Belum pernah dengar Pulau Sangiang, ya? Ehmm.. Memang sih ini pulau bukan menjadi pilihan yang utama kalo kalian anak gunung, anak curug, atau bahkan anak pantai sekalipun. You know, pantai identik banget soalnya sama Bali, Lombok, dan beberapa daerah di Nusa Tenggara sana, tapi siapa sangka kalo ternyata di selat sunda juga punya pulau yang gak kalah kece?

Jumat malam setelah jam kerja, saya dan beberapa temen lainnya berniat mengunjungi Pulau Sangiang ini, pertimbangan kami ya itu tadi, lokasinya gak jauh banget dari Jakarta dan bisa dilakukan saat weekend aja. So, here we go!

Perjalanan di mulai dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Cilegon.

1835165st-tanah-abang780x390
Suasana di Stasiun Tanah Abang, Jakarta

Waktu tempuh menggunakan kereta api dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Cilegon sekitar 3-4 jam perjalanan. Rencana saya dan temen-temen ke Sangiang ini mau kemah/camping lucu ala-ala di pinggir pantai ya, gak kebayang sih akan kayak apa karena ini merupakan pengalaman camping di pantai untuk pertama kalinya! hahaha.. Secara ya, camping itu enaknya di gunung atau di hutan-hutan pinus biar adem.

*Stasiun Cilegon bukan stasiun akhir, so jangan sampe ketiduran di kereta kalo gak mau bablas sampe ke pelabuhan Merak

**Kereta menuju Cilegon atau tujuan akhir Merak dari stasiun Tanah Abang biasanya ada pada malam hari mulai jam 10 malam

Kami sampe di stasiun Cilegon sekitar jam 3 subuh dan di depan stasiun ga ada apa-apa gengs, padahal udah laper.. wkwk But, it’s okay, setelah dari sini kami lanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Paku-Anyer menggunakan angkot carteran/sewa. Perjalanan ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam. FYI, di depan stasiun pada jam segitu udah banyak angkot yang sengaja menghampiri untuk dicarter ya, so gak usah khawatir kecuali kalian emang bawa kendaraan sendiri.. hehe

Capture
Pelabuhan Paku-Anyer | Source: http://maps.google.com/

Tiba di pelabuhan Paku-Anyer, atau lebih beken dengan sebutan pelabuhan Anyer ini sekitar jam 5 subuh, sudah banyak juga rombongan lain yang siap untuk mengarungi selat Sunda menuju pulau Sangiang, termasuk kami berlima ini.

Kayaknya ya, semua di sini pake rombongan open trip, kecuali kami.. as always.. dan ternyata setelah kasak-kusuk di saat kami menunggu kapal yang akan berangkat jam 7 pagi, kami mendapat info kalo nyebrang ke Pulau Sangiang mesti carter kapal juga, gak bisa kayak angkutan yang bisa naik kapan aja saat dibutuhkan. Repot? Iya, awalnya kita panik karena gak bisa juga nebeng ke rombongan lain karena udah pada pas maksimal sekapal 15 orang. Akhirnya, kami terpaksa carter satu kapal untuk 5 orang rombongan kami dengan membayar seharga 15 orang.. FANTASTIS! hahaha

***Sangat disarankan menuju pulau Sangiang pake open trip karena harga sewa per kapal cukup mahal untuk 5 orang aja

IMG_20160731_114352
Saya dan temen-temen menuju Pulau Sangiang

Dari pelabuhan Anyer menuju pulau Sangiang membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Perjalanan ini relatif singkat dibandingkan perjalanan ke pulau-pulau lainnya dengan menggunakan kapal ya, tapi kalo kalian merasa mabok laut siapkan obat anti-maboknya, asal jangan mabok janda aja~ eaaa…

First impression saat mau memasuki kawasan pulau Sangiang ini aja udah bikin kami semua berdecak kagum gengs, karena disambut baik oleh keindahan hutan bakau/mangrove yang sangat rapi membelah lautan, membuka jalan menuju dermaga di pulau Sangiang dengan jernihnya air laut di sekeliling kapal.

Gerbang masuk Pulau Sangiang | Source: http://denubay.blogspot.co.id

Gak jauh dari dermaga setelah kami menginjakkan kaki di tanah Sangiang, ada beberapa rumah pemukiman warga, jumlahnya ga banyak ya bisa dihitung jari, bahkan ada juga beberapa bangunan yang masih dalam kondisi tahap pembangunan yang entah akan jadi apa.

Kami jalan menelusuri jalan setapak ke dalam hutan dan semak-semak menuju pantai pasir panjang untuk mendirikan tenda camping.

****Kalo mau camping, pastikan spot yang di bawah pohon ya, karena kalo enggak akan sangat panas berada di dalam tenda

Suasana camping | Source: http://denubay.blogspot.co.id

Karena gak ikut open trip, kami punya jadwal yang sangat fleksibel di sini, bisa seenak jidat mau ngapain dulu dan ke mana dulu. Setelah tenda berdiri kokoh, kami memesan makanan oleh bapak penunggu warung di dekat pantai. Tanpa memanggil si bapak pun sebetulnya dia udah dengan sendirinya menyambangi kami untuk menawarkan hidangannya ya, gengs.

Murah harganya, enak makanannya, dan asik si bapaknya baik karena makanan yang kami pesan diantar langsung sampe ke depan tenda. Karena waktu juga masih pagi, kami pun bersantai dengan menggunakan hammock yang terpasang di sebelah tenda.

Hammocking di pinggir pantai Pasir Panjang

Keren banget pemandangan di pulau Sangiang ini loh, terbilang sepi banget sih engga ya, karena ada beberapa rombongan open trip juga yang ke sini dan mereka menginap persis di homestay belakang tenda kami sekitar 50 meter.

Buat kalian yang mungkin beser, gak perlu khawatir karena di pulau Sangiang terdapat beberapa toilet umum yang bisa dipakai untuk MCK.

Homestay di Pulau Sangiang | Source: http://yolosobehappy.com

Oh iya, pantai di sini pasirnya putih, dinamai pantai pasir panjang, kalo lagi beruntung suka ada rombongan anak penyu yang baru menetas berjalan ke laut. Saya pun sebenernya bisa beruntung, cuma kayaknya bangun kesiangan jadi pas main ke pantai udah tinggal jejak anak penyunya aja deh.. huhu

395577_228756473876439_693993003_n
Pantai Pasir Panjang | Source: http://www.tripgabungan.com

Gak lama setelah ini, kami mencoba mencari guide untuk mengantarkan keliling pulau Sangiang. Menurut beberapa blog yang saya baca, pulau Sangiang ini gak cuma pantai dengan pasir putih aja, tapi ada juga hutan untuk trekking-nya.. Selama kurang lebih satu jam masuk hutan dengan jalan nanjak, kami mendapatkan spot kece untuk foto dari atas tebing mengarah ke pantai di pulau Sangiang, Puncak Begal namanya.

IMG_20160730_153335
View di Puncak Begal

Pemandangan serupa mungkin kalian bisa dapetin juga kalo lagi di Gunungkidul Jogja atau di Uluwatu Bali ya, tapi gak perlu jauh-jauh deh karena di Sangiang pun ada.. hahaha.. Oh iya, waktu kami ke sini, trek menuju puncaknya udah jelas, jadi sebetulnya ga butuh guide juga bisa sampe sih, tapi pinggir tebingnya ini belom ada pembatas yang aman, so.. kalo kalian ke sini dan mau foto kayak di atas lebih baik jangan yaa, karena bahaya, kalo pun mau banget harus hati-hati.

Abis dari puncak ini, treknya udah mulai turun, sekitar 15 menitan, ketemu lah kami dengan spot lainnya, yaitu Goa Pawon. Goa ini ada di bawa tebing, kami melihat hanya boleh dari atas aja kata guide-nya karena tangga ke bawahnya curam dan licin. Gak puas dong dengan ngeliat dari jauh aja, dengan nekat kami turun sengaja untuk berfoto di depan mulut Goa Pawon.

IMG_20160731_085058
Goa Pawon

Goa Pawon ini isinya ombak besar yang kayaknya bisa ngebawa siapa aja ke tengah laut, belom lagi bau kelelawarnya yang nyengat abis. Goa ini bagus banget buat difoto karena warna air lautnya yang biru kehijauan dan dinding goa yang sangat historis. Pantai di sekeliling goa meskipun airnya berwarna biru bagus tapi gak bisa buat berenang ya, karena merupakan pantai karang dan banyak batu-batuan.

IMG_20160731_091128
Pantai di sekeliling Goa Pawon

Destinasi berikutnya menurut bapak guide adalah goa kelelawar. Sebenernya ya agak kurang tertarik ke sini karena udah kebayang bentuknya akan kayak apa. Trekking dimulai semakin menuruni hutan di pulau ini, dan sekitar 10 menit dari Goa Pawon, tiba lah kami di Goa Kelelawar.

*****Pakailah lotion anti nyamuk jika berada di sekitar Goa kelelawar ya, sumpah nyamuk di sini kejam-kejam

IMG_20160730_155000
Goa Kelelawar di Pulau Sangiang

Kalo diliat sepintas, Goa Kelelawar ini mirip banget sama Goa Pawon ya, bedanya Goa Kelelawar ini ukurannya jauh lebih kecil dan lokasinya di dalem hutan, bukan di pinggir tebing. Mistis kalo ngetliat ke dalem goanya, banyak kelelawar berterbangan dengan bunyi-bunyi suara yang khas.

Hari udah semakin sore pas kami di sini, gak lama kami balik ke tenda dengan jalan yang berbeda, lewat pantai pasir panjang, so kami gak perlu trekking lagi. Tepat jam 5 sore, kami ada di spot batuan purba di pasir panjang, keren banget karena pas kita di sini banyak kelelawar yang keluar dari goa, berterbangan di atas laut, cuma sayangnya kita gak ngambil foto ini dan lebih memilih menikmati secara langsung.

IMG_20160730_172704
Spot Batu Purba di Pantai Pasir Panjang Sangiang

Saya lupa nama batuan di ujung pantai Pasir Panjang ini namanya apa, tapi yang pasti ini kece banget, gak kalah deh sama Stone Garden yang ada di Padalarang, malah lebih kece karena sebelahan sama laut.. hahaha.. Yang kurang dari sini adalah masih banyaknya sampah yang terbawa ombak dari pulau Jawa, seperti yang keliatan di foto tuh ya.

Besoknya di hari minggu, adalah hari terakhir kami di pulau Sangiang ini. Kami melakukan snorkeling di Legon Waru. Again, kami asik snorkeling dan gak ngambil foto di sini, tapi jujur aja spot ini salah satu yang oke buat snorkeling ya, masih banyak terumbu karang yang warna warninya, asik! Sekitar 1-2 jam kami main air, kami melanjutkna laju kapan untuk kembali ke pelabuhan Anyer untuk akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.

Overall pulau Sangiang ini bagus ya, terlepas dari beberapa sampah yang kami temui di pinggir pantai yang sebetulnya sampah bawaan dari pulau Jawa. Kalo mau ke sini, mending ikut open trip karena akan jauh lebih murah biayanya, atau bisa bawa rombongan sendiri asal ramean, 10 orang oke lah. Sekian dulu cerita perjalanan saya di pulau Sangiang ya, masih banyak tempat di sekitar Banten yang belum saya datengin, semoga next bisa explore Banten yang lebih kece lagi.

See you again! Semoga bermanfaat ya… Jadi, kapan ke Pulau Sangiang?

Camping Di Gunung Papandayan, Tetap Ceria Meski Basah Diguyur Hujan

Sudah banyak orang tau kalo Gunung Papandayan merupakan tempat yang paling pas untuk pendaki pemula, mulai dari aksesnya yang bisa dijangkau oleh banyak jenis kendaraan, trekking yang landai, dan ketersediaan fasilitas yang sangat mumpuni sampai ke area perkemahan.

Sebetulnya, naik gunung bukanlah pengalaman baru buat saya, tapi kali ini ada yang spesial karena saya mendaki bersama dengan temen-temen kantor yang mayoritas belum pernah sama sekali naik gunung! Hell yeah..

Oke langsung aja, saya dan temen-temen melakukan perjalanan dengan tema “Camping Ceria” ini pada awal Februari 2017, tepatnya pada tanggal 4-5 Februari. Perjalanan kami mulai dari Bandung–kebetulan kita semua sedang berada di Bandung karena acara kantor–menuju Gunung Papandayan yang berada di kawasan Garut, Jawa Barat, menggunakan mobil pribadi.

dscf5676
Rombongan Camping Ceria Papandayan

Saya dan rombongan semua total ada 10 orang (seperti pada gambar + satu orang yang fotoin, maaf ya mas Ferdi gak in-frame.. hehe), kami berangkat dari Bandung sekitar jam 9.30 pagi dan tiba di Gunung Papandayan sekitar pukul 12.30 siang, waktu tempuh Bandung-Papandayan sekitar 3 jam perjalanan.

*Tips, kalo mau naik gunung ada baiknya liat ramalan cuaca dulu untuk daerah yang mau dikunjungi ya, soalnya pas kami tiba di Papandayan langsung hujan 😦 hiks

Yak, karena cuaca hujan dan jam setempat sudah menunjukkan waktu isoma (istirahat, solat, makan), maka kami memutuskan untuk rehat sejenak sambil menunggu hujan reda.

dscf5682
Makan siang di warung parkiran Papandayan

Selama kurang lebih 2 jam kami menunggu hujan yang tak kunjung reda di salah satu warung area parkiran, maka kami memutuskan untuk tetap mendaki karena khawatir sampai area camp terlalu malam.

Berbekal skill ala kadarnya, akhirnya kami bersiap dengan menggunakan jas hujan untuk mendaki lengkap dengan rain cover yang membungkus tas gunung kami.

dscf5691
Persiapan mendaki Papandayan saat hujan

Mulai lah pendakian cantik nan macho ini dimulai pada jam 2.30 sore. Sebenarnya saya agak kasihan sih sama temen-temen yang newbie soal gunung-gunungan, cuaca buruk disertai angin kencang gak terduga terus menerpa langkah demi langkah, apalagi persiapan fisik juga sekedarnya atau bahkan tanpa persiapan fisik sama sekali, takut pada tepar dan meninggalkan kesan kapok untuk naik gunung lagi.. huhu

Padahal, kalo aja cuaca cerah, Papandayan ini saya bilang termasuk kategori gunung cantik yang cocok banget buat pemula loh, jalannya cenderung landai dan gak masuk hutan banget. View pertama nanjak aja udah hamparan kawah yang keren banget!

img_3142
Trek kawah di awal pendakian Papandayan

Ditambah lagi, rencana kami untuk ngadain BBQ-an saat camp kayaknya udah hampir sirna melihat cuaca yang kurang bersahabat. Tapi meskipun demikian, kami tetap melangkah sampai ke area perkemahan Pondok Saladah.

**Supaya aman, bungkus pakaian ganti atau apapun yang ada di dalam tas gunung kalian dengan plastik kresek supaya gak rembes air

Perjalanan yang kami lakukan dari awal pendakian hingga Pondok Saladah memakan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit, kami tiba di sana sekitar pukul 5 sore yang kemudian disusul dengan mencari spot kemah. Memang agak sulit menentukan spot yang baik saat tanahnya basah diguyur hujan, sehingga memakan waktu lagi buat kami untuk mencari yang terbaik hingga tak terasa matahari pun mulai terbenam. Anyway, karena selama perjalanan didera hujan, maka sebagian barang yang kami bawa di dalam tas jadi basah! No way..

***FYI, jangan mencari spot kemah di dalam hutan karena sangat rentan digerayangi babi

img_3156
Pendakian sambil hujan-hujanan

Sekitar jam 7 malam, baru lah kami beres memasang tenda. Ada 3 tenda, satu tenda berisi barang-barang, sedangkan 2 tenda lainnya berisi masing-masing 5 orang. Dalam keadaan seperempat basah, kami berusaha enjoy dengan segala kondisi yang ada. Rencana mau masak-masak batal, bukan cuma karena hujan tapi karena kompor/nesting lupa dibawa naik.. cerdas!

UNTUNGNYA, Papandayan ini gunung cantik, jadi tersedia banyak kedai-kedai yang menjual makanan dan minuman, mulai dari nasi, gorengan, mi instan, minuman hangat seduh, sampe cilok sekalipun ada. So, kami makan dengan beli di salah satu kedai yang dekat dengan tenda.

SIALNYA, mungkin emang belom jodohnya bawa makanan ke Papandayan ya, meski kita udah ikutin saran dari pemilik kedai untuk menggantung makanan di pohon, tetep aja makanan kita kejangkau sama babi! Habis sudah.. Emang dasar babik ya..

file
Penampakan babi hutan di Papandayan | Source: https://ask.fm/kdaram/answers/135682320622

****Oh iya, babi di Papandayan dikenal bernama Omen, entah dari mana, tapi semua babi yang ada di sana dipanggil Omen

*****Hindari membawa masuk makanan ke dalam tenda karena kemungkinan besar si Omen akan menyeruduk tenda, lebih baik makanan digantung di pohon setinggi mungkin

Lanjut, keesokan harinya sekitar jam 5 subuh, kami melakukan eksplorasi ke tempat yang menjadi primadona di Papandayan, yaitu hutan mati & padang edelweis.

dscf5703
Sempet kesasar di hutan pas menuju Hutan Mati

Saat menuju hutan mati ini, perjalanan dari Pondok Saladah diteruskan menelusuri hutan-hutan dulu ya.. Dan ini justru serunya, meskipun kita sempat nyasar di tengah rimba pepohonan, tapi kita semua tetap tenang dan kompak, no drama! Sekitar 30 menit berjalan, akhirnya kita tiba di Hutan Mati yang cantiknya parah banget gengs.

dscf5709
Tiba di kawasan Hutan Mati Papandayan
dscf5726
Menikmati area Hutan Mati Papandayan

Gak lama-lama banget kami di hutan mati, perjalanan dilanjutkan ke spot kece lainnya, Tegal Alun! Di sini, katanya jadi padang bunga abadi dan sejauh mata memandang yang ditemukan hanya pohon bunga edelweis, bener gak sih?

Oke, karena saya sendiri penasaran seperti apa, saya setuju untuk segera melangkahkan kaki ke Tegal Alun. Tau gak? Jalan menuju Tegal Alun ini gak bisa dianggap remeh ya, layaknya naik gunung beneran nih, jalannya nanjak parah, udah bener-bener gak landai lagi.. huft..

dscf5801
Trekking menanjak menuju Tegal Alun Papandayan
dscf5799
Istirahat sejenak saat trekking menuju Tegal Alun

Yang kasian itu temen-temen newbie yang baru coba naik gunung, terutama cewek, udah mau pingsan semua kayaknya, hahaha..Tapi oke lah ya, karena jalan nanjak dan cukup terjal ini berakhir hanya dalam 20 menitan, sisanya udah deh kita ngeliat padang bunga abadi, Edelweis!

dscf5896
Pemandangan padang Edelweis, Tegal Alun

So far, para newbies bisa mencapai Tegal Alun meski jalannya sangat nanjak ya dan tempat ini merupakan spot kece terakhir yang kami kunjungi di Papandayan, karena setelah dari sini kami kembali ke area kemah Pondok Saladah untuk mengemasi tenda dan perlengkapan lainnya.

KESAN & KESIMPULAN

Selama kurang lebih 2 hari 1 malam saya berada di Papandayan, banyak banget hal-hal yang menambah pengalaman saya:

(+)

  1. Karena diguyur hujan, perjalanan tidak terlalu melelahkan jika dibanding saat naik musim kemarau
  2. Adanya pendaki newbies membuat yang berpengalaman untuk lebih mengontrol ego
  3. Pemandangan di Papandayan sangat cantik dari sisi manapun, gak peduli mau nanjak di musim apa
  4. Trekking di Papandayan cenderung landai dan gak butuh waktu lama untuk bisa sampai di Pondok Saladah (area camp)
  5. Fasilitas seperti toilet, mushola, dan warung makan di area camp sudah tersedia, jadi bisa agak selow ya gengs.

(-)

  1. Papandayan sudah terlalu komersil sepertinya dibanding gunung lain jadi harganya juga lumayan mahal

Oke gengs, sekian dulu cerita saya di camping ceria Papandayan ya! Semoga masih diberi kesempatan untuk jalan-jalan ke tempat lain lagi dan sharing pengalaman lagi. Terima kasih buat temen-temen yang udah ikut camping ceria ini ya; Hafidz, Alitha, Nona, Rima, Rizal, Rayhan, Mas Ferdi, Dea, dan Kevin 🙂 Semoga gak kapok pasca pendakian lepek ini yaa..

Untuk saran silakan komentar di bawah ya.. See you in other stories!