Usaha Ala-ala Mencari Spot Anti Mainstream Di Pacitan

Siapa yang nyangka kalau kota kecil Pacitan ini punya tempat keren? Jujur aja, waktu pertama kali nyeletuk kata Pacitan sebagai kota yang akan saya sambangi ke temen-temen reaksi pertama mereka pasti akan bertanya, “Ada apa di Pacitan?”, huft.. agak kesel sih dengernya karena saya udah semangat tapi malah pada gak tau bagusnya Pacitan kayak apa, alhasil harus jelasin dulu deh ke mereka.. blablablaa.. capek boss..

* Dear gengs, jangan pernah tanya ke saya “Ada apa di sana?” kalo saya udah menentukan tempat jalan ya.. Karena itu merusak mood seharian, oke bye~

** FYI, tiap akhir tahun saya selalu ada plan untuk ngebolang dan saya menyebutnya sebagai Big Trip (expense > Rp1,000K), ada juga Medium Trip (expense berkisar Rp300K s/d Rp1,000K), dan Small Trip (expense < Rp300K)

Yaudah, seperti biasanya nih, saya melakukan perjalanan ini saat libur long weekend hari raya Natal di tanggal 23 – 26 Desember 2016 (4D3N) bersama temen se-genk, dan kita menyebut ini sebagai Big Trip. Untuk jarak Jakarta – Pacitan yang lebih dari 600 KM, rasanya agak mustahil melakukan perjalanan ini yang hanya ada di sela-sela long weekend.. hahaha.. Well, buktinya saya dan temen-temen bisa melalui ini semua, mau tau kan ya gimana liburan kali ini? Yuk ah, kita lanjut langsung aja masuk ke hari pertama.

Hari pertama, 23 Desember 2016, ini adalah hari Jumat di mana masing-masing kita masih pada kerja, kecuali satu orang ada yang masih meneruskan pendidikannya di jenjang S2 SBM-ITB (kampus tercintah~ hahaha). Kita jalan berempat: Doni (saya sendiri), Sandi, Mia, dan Unne.. Saya, Sandi, dan Mia memang sudah base di Jakarta, sedangkan Unne yang masih kuliah S2 ini ada di bandung, jadi Unne harus ke Jakarta terlebih dahulu karena meeting point big trip ini ada di KFC GELAEL Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Processed with VSCO with c7 preset
Penampakan meeting point kita, KFC Gelael Gatot Subroto – Jakarta Selatan | Source: http://www.panoramio.com/photo/119582615

Tepat jam 7 malam, saya dan temen-temen berangkat menuju Pacitan. Di jalan-jalan kali ini, kita sengaja sewa mobil beserta supirnya, kenapa? Bukan mau hedon atau dibilang hidup gemah ripah ya, ini karena memang gak ada bus malam dari Jakarta ke Pacitan dan gak ada satu pun dari kita yang bisa nyetir mobil, alhasil harus sewa mobil + supir selama liburan ini berlangsung. Toh kalo dihitung uang pun budget transportasi ini akan sama aja.. hehe.. MANTAP GAN!

Perjalanan dari Jakarta menuju tempat kita menginap di homestay memakan waktu 18 jam. Macet bos! Beberapa titik ruas jalan ada truk tergelincir, belom lagi pake nyasar tengah hutan dulu.. huhu (kebayang gak mobil nyasar di tengah hutan kayak gimana?).

*** Jangan mengandalkan Google Maps ya, meski rutenya deket tapi.. wassalam.. Jauh lebih baik tanya GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) supaya gak dibawa nyasar ke hutan.. huhu

Okay, akhirnya kita sampai di homestay sekitar jam 1 siang, 24 Desember 2016.. Eh iya, kita menginap di Homestay area Pantai Watukarung, kenapa kok di sini? Karena pantai Watukarung belum begitu tersohor kayak pantai lainnya di Pacitan macem Pantai Klayar, Srau, Banyu Tibo, jadi di pantai ini tak begitu ramai meskipun kita berlibur saat long weekend.. hahaha.. Good choice lah 🙂

Processed with VSCO with c7 preset
Homestay kita di Pantai Watukarung: The Sun The Trees and The Sea | Source: http://thesunandthetrees.com/
Processed with VSCO with c7 preset
Bale + Mushala di The Sun The Trees and The Sea Homestay | Source: http://thesunandthetrees.com/

Sekilas review aja untuk homestay ini, jujur gak nyangka bisa tinggal di tempat yang kece parah ini selama di Pacitan. Homestay-nya bernuansa kayu, terletak persis di pinggir pantai, jadi berasa liburan di Bali deh.. hahaha.. Fasilitasnya? Gak usah tanya lah ya, dengan harga yang sangat terjangkau, kita udah bisa dapet breakfast gratis dengan pilihan makanan sesuka kita, ada tempat parkir, sambungan WiFi yang ngebut parah, kamar mandi dalam, ada AC & kipas angin, dan TV kabel. Satu poin plus deh buat homestay ini karena sekamar boleh tidur berlima (sama Mpok Kokom, sang supir legendaris) tanpa tambahan biaya apapun.

**** Untuk yang mau ke sini, silakan Whatsapp Pak Muslim ke nomor 0811269478 untuk reservasi atau tanya-tanya lebih detail soal homestay-nya ya 🙂

Lanjut, setelah menapakkan kaki di homestay, kita beberes barang bawaan, mandi, dan makan siang.. Lalu kita biarkan supir legendaris kita untuk beristirahat karena doi belom tidur semaleman, gokil bro! Yaudah, sekitar jam 2.30 siang, spot pertama yang kita kunjungi adalah Pantai Watukarung, karena berjarak hanya 10 meter depan homestay.

Processed with VSCO with c7 preset
Salah satu sudut pantai Watukarung
Processed with VSCO with c7 preset
Pantai Watukarung dari atas bukit

Gak berasa udah haha-hihi lama di pantai ini, gak seru kalo gak sunset-an. Kita ini segerombol anak-anak yang doyan banget explore, so kita gak akan sunset-an di sini. Ke mana kita? Cuss ke pantai sebelah.. Pantai Kasap!

Dari pantai Watukarung ke pantai Kasap sebetulnya deket, berjarak hanya 1-2 KM aja sih, cuma karena supir kita sedang bobo cantik makanya kita menggunakan ojek untuk ke sana, kalo jalan kaki? Hemm.. Bisa aja, cuma you know lah ya kita dari perjalanan jauh Jakarta – Pacitan jadi gak mau susah-susah dulu.. Hahaha.. Well, niat kita untuk ber-sunset-an ria, jadi kita tiba jam di pantai Kasap sekitar jam 4.50 sore biar gak lama nunggunya.

Oh iya, berdasarkan informasi dan observasi kita di sini, pantai Kasap ini lebih sepi lagi dari pantai Watukarung, masuknya aja mesti ngikutin jalan setapak di dalem semi hutan gitu (I love forest!) selama 10-15 menitan. Spot terkece di sini adalah dari atas bukit karena kalian bisa dapet view ala-ala Rajaampat dengan paduan rumput ilalang yang menguning. So beautiful! Tapi, di sekitaran sini gak ada perkampungan penduduk, apalagi homestay.. So, kalo mau ke pantai Kasap, kalian mesti bermalam di pantai terdekat, Watukarung.

Processed with VSCO with c7 preset
Bukit di pantai Kasap nih.. Berasa di New Zealand ya? Haha
Processed with VSCO with c7 preset
Spot sunset di pantai Kasap, view di depan ala Raja Ampat loh!

Yap. Selesai sudah perjalanan hari ini setelah sunset-an di Pantai Kasap. Besoknya, kita akan explore ke 4 tempat sekaligus, buru-buru memang.. Mau gimana lagi, karena lusa paginya kita udah harus pulang lagi ke rumah masing-masing.. hiks.. Okeh, gak perlu lama-lama, abis dari sini saya dan temen-temen langsung balik ke homestay untuk istirahat.

============================== Istirahat, Tidur ==============================

Subuh di hari ketiga, tanggal 25 Desember 2016 yang bertepatan dengan hari raya Natal (selamat Natalan btw) saya dan temen-temen melanjutkan lagi perjalanan di Pacitan. Sekitar jam 5 pagi, kita udah gantian mandi untuk segera bersiap ke spot selanjutnya. 2 jam siap-siap, gak kerasa udah jam 7, okeh kita sarapan dulu di homestay. Gak lama, kita langsung pergi menuju spot selanjutnya, ke mana? Air terjun Tluvalley!

1 jam perjalanan kita dari Watukarung ke air terjun Tluvalley ini ya, jadi kita sampe sekitar jam 9 pagi. Air terjun Tluvalley, atau Grojogan Dhuwur, atau juga Grojogan Barong, terletak di desa Candi, Pacitan. Air terjun ini punya 3 nama seperti yang saya sebutkan tadi, yang paling beken untuk warga sekitar sebenernya Grojogan Barong, kalo Grojogan Dhuwur kayaknya hits untuk anak-anak kota di Pacitan, sedangkan nama Tluvalley adalah nama kece wisatanya karena ada plang nama Tluvalley di pinggir jalan untuk mengarah ke air terjunnya.

***** Rute menuju Air Terjun Tluvalley adalah dengan mengikuti arah ke Pantai Srau, sampai ke Balai Desa Candi. Depan Balai Desa ada belokan/turunan ke kiri (kalo dari Watukarung), ke kanan (kalo dari kota Pacitan) masuk situ, nanti ada pertigaan tajem ambil yang ke kiri, jalan sampai ketemu area persawahan, di sana udah tinggal jalan setapak aja ngikutin pipa besi sampe nemu air terjunnya

Processed with VSCO with c7 preset
Penampakan Air Terjun Tluvalley

Gak gampang loh untuk bisa sampe ke air terjun ini, karena belom terlalu ngehits jadi susah kalo mau tanya orang, jalan ke sini pun masih tanah merah, licin, apalagi pas udah mau sampe air terjunnya, kita mesti turun tangga bambu yang cukup curam. Di balik itu semua, tempat ini sangat rekomended untuk didatengin, tempatnya adem dan airnya biru banget loh.. Seger liatnya.

Oh iya, di sini cuma ada kita aja, bener-bener gak ada orang lain, gak tau deh kalo makhluk yang lain.. hehehe.. Sepanjang jalan ke sini, orang-orang pada nanya ke mana dan mau ngapain di air terjun, bahkan mereka ngasih wejangan untuk sangat berhati-hati karena tempatnya angker sodara-sodara. Konon, sehari sebelum kita ke sini ada yang meninggal karena kepleset di batunya yang licin.. huhu serem yak.. Tapi, selagi kita punya niat baik, gak nyampah, gak berkata kasar, dan main hati-hati sih semoga gak kenapa-napa ya. Untuk yang mau berenang di sini, pastikan kalian bisa berenang ya karena kolamnya sedalam 6-7 meter.

Lanjut ya.. Gak lama banget di sini, kita cabut lagi ke spot selanjutnya, kali ini tempatnya sangat hits se-Pacitan raya! Sungai Maron. Perjalanan dari air terjun Tluvalley ke Sungai Maron sekitar 1 jam. Kita tiba di sana jam 1 siang dan langsung menyantap makan siang terlebih dahulu sebelum kita foto-foto lucu di atas canoe.

Processed with VSCO with c7 preset
Naik canoe di Sungai Maron

Sewa canoe di sini murah loh kalo kalian naiknya ramean, soalnya mereka ngitungnya sewa per canoe, bukan kepala orangnya yang dihitung. Biaya sewa satu canoe di sini Rp100K. Sungainya pun cukup panjang, pulang-pergi pool 8 KM loh.. Oh iya, ujung dari sungai maron ini langsung bermuara ke Pantai Ngiroboyo, jadi kita naik dari pool dianter sampai ke muaranya, kemudian balik lagi ke pool. Worth It!

Processed with VSCO with c7 preset
Muara Sungai Maron berakhir di sini, Pantai Ngiroboyo

****** Untuk dapet warna air sungai yang bagus untung-untungan ya, saat saya dan temen-temen ke sini airnya cenderung berwarna hijau, ada lagi kalo yang keren banget ketika airnya berwarna biru, kalo lagi apes kamu cuma dapet warna air yang coklat keruh kayak kali ciliwung.. hahaha

Udah balik lagi ke pool, saya dan temen-temen ngelanjutin lagi perjalanan kita ke Goa Gong. FYI, goa ini hits banget loh, bahkan kayaknya ada istilah “belum ke Pacitan kalo belum ke Goa Gong”. Kebayang ya, saat libur panjang gini ke tempat hits akan kayak apa ramenya 😦 Tapi gapapa, karena kita jauh-jauh dari Jakarta makanya tetep kita hajar! Kita sampe di Goa Gong sekitar jam 2.45 sore.

Processed with VSCO with c7 preset
Salah satu sudut pemandangan di dalam Goa Gong

Goa Gong ini sudah sangat turistik, keliatan lah ya dari foto juga. Dindingnya udah banyak dikasih lampu-lampu cantik, ada jalan untuk pengunjung, bahkan ada kipas angin blower biar pada gak kegerahan di dalem goa! Hahahaha.. Keren? Iya sih keren, tinggal edit dikit udah cetar membahana kayak foto yang saya post di Instagram.. hehe..

Kenapa dinamakan Goa Gong? Simple aja, ada salah satu bagian di dinding goa itu kalo dipukul bisa mengeluarkan bunyi layaknya kita memukul gong. Saya sendiri udah buktiin kok, cuma waktu itu saking penuhnya dan pengen cepet-cepet keluar jadi gak ngerekam deh. Maapkeun yak.

Dari sini, kita keluar gong jam 5 sore, biasa mau sunset-an lagi di pantai, dan pantai terdekat adalah Pantai Klayar. Gak pake mikir panjang kita langsung jalan ke sana sebelum matahari bener-bener tenggelam.. Mepet banget sama waktunya ini, karena dikejar waktu, ngebut lah kita di jalan, sesampainya di sana waktu menunjukkan jam 5.15 sore. Masih ada matahari kok, yang gak ada itu space parkir untuk mobil kita.. Hahaha.. Tempatnya rame banget!

Processed with VSCO with c7 preset
Sunset di pantai Klayar

Waktu kita ada di sini, ada poin plus dan poin minus juga nih.. Kenapa? bagusnya, waktu ke sini ombak lagi gede banget jadi bagus ngeliat lautnya, sunset pun jadi makin dramatis dengan suara deburan ombaknya. Tapi, sialnya adalah karena ombak ini lagi gede banget, kita gak bisa ke seruling samudranya yang ada di bebatuan ujung pantai Klayar. Huft..

Nah, perjalanan ke Pantai Klayar ini menjadi spot terakhir yang saya & temen-temen saya kunjungi di Pacitan. Sedih memang kalo mengingat hari esok karena harus pulang lagi ke Jakarta! Huhuhu.. Yaudah, abis dari ini kita pulang ke homestay, makan malam, dan tidur!

============================== End of Story ==============================

Terima kasih ya buat kalian yang udah mampir dan baca cerita perjalanan saya di sini. Tiap ada kesempatan saya pasti akan share pengalaman menarik lainnya ya. Oh iya, trip saya ke Pacitan ini ditemani oleh temen-temen genk yang terbentuk semasa kuliah, mereka adalah:

  1. Tejo Sandi Saputra (IG: @sandiputtra)
  2. Mia Mayasari (IG: @myaamiaa)
  3. Unne Sukmayanti (IG: @unnesukma)

Semoga perjalanan saya berikutnya bisa ngajak satu genk full, 9 orang.. Aamiin!

Kalian ada pertanyaan? Komentar? Masukan? Boleh silakan sampaikan ke saya di kolom komentar di bawah atau klik “Contact” pada pilihan menu di atas ya 🙂

Sampai berjumpa lagi di cerita perjalanan saya selanjutnya!

Best Regards,

Doni Laksono

Cerita Backpackers Di Tanah Dieng

Akhir tahun merupakan waktu yang (cukup) tepat untuk berlibur, selain karena bisa liburan panjang, bonus akhir tahun juga sudah masuk rekening.. ha ha.. Selain itu, kita juga bisa menikmati liburan tersebut bersama teman-teman se-genk, tapi, sebelum melakukan perjalanan liburan perlu juga dipertimbangkan matang-matang soal cuaca tempat tujuan, karena seperti yang kita tau bahwa bulan Desember sudah masuk musim penghujan.

Oke, liburan akhir tahun 2015 ini, saya dan teman-teman se-genk mengadakan trip ke dataran tinggi Dieng, atau lebih populer dengan Dieng Plateau. Ceritanya, tema perjalanan kali ini adalah backpackeran dengan budget seminim mungkin..

* FYI, tiap kita nge-trip gak ada budget fix karena selalu tanpa agensi, so.. bawa duit aja yang banyak tapi diirit seirit mungkin.. haha

Tim jalan-jalan kali ini ada 6 orang. Perjalanan dimulai secara terpisah–berasa beli barbie aja baju dijual terpisah.. wkwk–di mana saya dan 2 temen lainnya, Mia & Sandi berangkat dari Jakarta. Rizal & Une berangkat dari Bandung, sedangkan ketua genk Erlina berangkat langsung dari tanah kelahirannya, Banyumas.

Rute perjalanan yang diambil adalah Jakarta – Wonosobo – Dieng menggunakan bus. Rute alternatif lain bisa dengan menggunakan kereta api menuju Purwokerto, kemudian dilanjut dengan bus menuju Wonosobo, lalu ke Dieng.

Di Jakarta, kita berangkat dari Terminal Pulo Gadung, Jakarta Timur, jam 5 sore. Rencananya, kami mau naik bus PO Sinar Jaya, namun karena terlalu sore jadi kehabisan tiket dan terpaksa mencari bus tujuan kota lain.

** Tiket bus hanya bisa dibeli pada hari H keberangkatan, gak ada sistem booking. Contact person PO Sinar Mas: Pak Sumanto, 08118195855.

*** Tips, harus tiba di terminal jam 12 siang untuk pantengin tiket PO bus.

Akhirnya, tepat pada jam 6 sore kami naik bus Setia Negara tujuan Purwokerto terlebih dulu, masuk bus langsung bayar di tempat, jadi rebutan untuk dapet seat! Sialnya karena ini bus cuma satu-satunya yang berangkat sore itu ke Purwokerto jadi kita dipatok harga yang tinggi.. sampah.

Sepanjang perjalanan kita hanya tidur karena memakan waktu yang cukup lama, sekitar 12 jam sampe Purwokerto.. mungkin ada faktor libur panjang akhir tahun kali ya. Keesokan harinya, saat pagi menjelang siang tiba, kita sampai di terminal Purwoketo (sekitar jam 6.30 pagi). Di sini kita beristirahat sebentar, sarapan+makan siang, ngecas hape, cuci muka, dll.

Terminal Purwokerto
Terminal Purwokerto | Source: http://www.thejakartapost.com

Tak lama, kita kemudian melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo menggunakan bus umum dari terminal Purwokerto yang bentuknya semacam metromini atau kopaja. Tarifnya cukup murah jika dihitung dengan waktu tempuhnya yang sampai 3 jam perjalanan. Tapi sayang nih, saya dan teman lainnya gak sempat foto penampakan busnya karena memang lagi dikejar waktu yang terus menggong-gong.. Uhuk.

Lanjut.. Setelah mengarungi lamanya perjalanan–yang ternyata cukup macet, sampai lah kita di terminal Wonosobo sekitar jam 12 siang. Di sini, banyak dijumpai beberapa komplotan pendaki, ya sama-sama juga mau naik Gunung Prau lah katanya. Oke, karena ini tengah hari bolong, saya dan temen-temen lainnya langsung cari minibus–semacam kawin silang antara kopaja/metromini dengan bus elf–untuk menaruh tas carrier kita yang beratnya udah kayak mikul barang dagangan, kemudian kita pergi sebentar untuk mencari sesuap nasi.

Source: https://travelanggi.wordpress.com/tag/wet/
Salah satu pendaki Prau di Terminal Wonosobo | Source: https://travelanggi.wordpress.com/tag/wet/

Tepat pukul 1.30 siang, saya & temen-temen mulai jalan menuju Dieng dengan minibus tadi. Well, namanya minibus, space tempat sangat terbatas sehingga pada akhirnya ada beberapa orang yang berdiri sepanjang ruang jalan di dalam bus. Sesak, gerah, lepek, lengket gak mandi dari semalem.. Ah, sudah lah..

Singkat cerita, kita akhirnya sampai dan turun di desa sembungan pada jam 6 sore. Konon katanya, desa sembungan ini merupakan desa tertinggi di pulau jawa dengan ketinggian 2,306 meter dari permukaan laut. Nah! Di tempat setinggi ini kita celingak-celinguk gak jelas, berasa asing, gak tau harus apa setelah ini.. hahaha kenapa? ya, karena kita jalan ke sini belom tau mau stay di mana.

Desa Sembungan | Source: https://mengertilah.wordpress.com/tag/sembungan/
Desa Sembungan | Source: https://mengertilah.wordpress.com/tag/sembungan/

Memang sudah biasa buat saya untuk jalan secara backpacker, dadakan, spontan. Gak mau ambil pusing saya dan temen-temen langsung tanya aja ke penduduk lokal untuk cari homestay yang bisa dibuat tidur sekamar ramean, berenam cuy!

Dibawalah kita sama penduduk lokal untuk cari homestay.. Sebenernya karena ini kita jalan di long weekend libur natal juga, jadi hampir tiap homestay itu penuh ya, gak bersisa.. Alhasil kita muterin desa untuk cari tempat tinggal, dan setelah sejam kita berkelana akhirnya kita dapet tinggal di rumah warga asli, tanpa ada embel-embel homestay di rumahnya.. Aseekk!

**** Karena ini latepost, saya lupa nama bapak pemilik rumah di Desa Sembungan. Gak punya kontaknya juga.. hiks 😦

============================== Istirahat, Tidur ==============================

Teng.. Udah jam 4 pagi waktu Dieng, saya dan temen-temen seperjuangan segera bagun dari mimpi indah tanpa desah semalam. Semua tanpa mandi, langsung ganti baju, sikat gigi, makan roti dari bekel yang kita bawa. Mau ke mana kita? Bukit Sikunir! Kebayang ya, di desa yang katanya tertinggi di pulau jawa kalo sepagi ini rasanya kayak apa.. FREEZING! Brrr…

Berbekal lampu senter di tiap tangan, kita jalan kaki dari tempat kita menginap (bukan penginapan loh ya) ke Bukit Sikunir yang katanya punya golden sunrise. Well gengs, jalannya ga deket-deket amat, tapi juga ga jauh amat, ada lah sekiranya 1KM kita jalan menuju Bukit Sikunir itu sebelum sampe ke penanjakannya. Meskipun ini masih jam 4 pagi, in which subuh dini hari, udah banyak banget mobil yang macet untuk masuk ke lapangan parkir penanjakan Bukit Sikunir ini.. Beruntung kita jalan kaki jadi bisa sampe duluan deh.. hahaha

***** Tips, jangan naik mobil kalo mau ke Bukit Sikunir saat libur long weekend nasional karena dijamin akan macet banget, kalo mau naik mobil pun harus lebih pagi dari jam 4 dini hari

Di salah satu sisi bukit Sikunir
Di salah satu sisi bukit Sikunir
Salah satu keceriaan kami di Bukit Sikunir
Salah satu keceriaan kami di Bukit Sikunir

30-45 menit waktu yang dibutuhkan saya dan temen-temen untuk melakukan penanjakan hingga ke puncak Sikunir. Sayang, sampe di puncaknya kita gak dapet golden sunrise seperti yang orang lain cerita.. huhu.. Seperti foto di atas, langitnya terlihat berawan sehingga kita cuma bisa menjumpai silver sunrise.. not bad lah ya.. Yang terpenting adalah pengalamannya! *menghibur diri*

Udah 3 jam kita foto-foto di atas Bukit Sikunir, saatnya kita turun! Balik ke tempat kita menginap dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Ke mana kita? Telaga Warna! Cuss..

Telaga Warna dari atas bukit
Telaga Warna dari atas bukit

Telaga warna ini unik ya, 2 danau di satu wilayah, terletak berdampingan, namun berbeda warna. Kenapa kok bisa beda warna? Ehm.. kalau secara ilmiah sih, danau yang berwarna biru tosca itu terjadi karena terdapat kandungan sulfur di dalamnya, sedangkan danau yang satunya lagi hanya air tawar biasa sehingga warna air mengikuti tanah di dasar danaunya. Tapi, kalau secara non-ilmiah saya kurang paham.. mungkin bisa dikaitkan dengan legenda wanita yang berdilema melawan cinta.. tsahhh~

Lanjut.. Gak lama dari Telaga Warna, kita sebetulnya sudah sangat dinantikan oleh ketua genk; Erlina Permatasari di basecamp patak banteng. Apa itu? Patak banteng adalah salah satu basecamp pos jalur pendakian gunung Prau, banyak sih jalur pendakian lain menuju Prau, cuma kita memilih Patak Banteng karena waktu tempuh yang relatif singkat (normal 2 jam) dan sepanjang jalan disuguhi oleh pemandangan yang indah. Karena gak sabar untuk mencoba pengalaman baru, saya dan temen-temen bergegas untuk meneruskan perjalanan.

Selfie dulu sebelum naik Prau
Selfie dulu sebelum naik Prau

Sejujurnya, saya dan temen-temen ini bukan anak gunung banget.. hahaha.. Pernah sih naik gunung, tapi ya macem gunung batu di jonggol gitu yang naiknya gak sampe sejam udah ada di puncak. Kali ini, spesial karena ibu ketua genk adalah anak gunung abis yang suka dukanya ada di gunung udah khatam dari A sampe Z.

Berlanjut hingga pada akhirnya beneran naik gunung… *brb naik gunung*

Istirahat sejenak sebelum sampai puncak Prau
Istirahat sejenak sebelum sampai puncak Prau

Yeay, selamat! Cuma 2 jam aja nih kita berhasil nanjak gunung Prau 😀 Ternyata gak susah, capek? Iya.. tapi worth it lah sama pemandangan yang kita dapet pas udah sampe puncak, beruntung langit malam ini cerah banget! banget! bangeeet! Saking cerahnya bulan bener-bener jelas terlihat berbentuk bulat sempurna loh.

Eh iya, sekedar informasi, kita mulai melakukan pendakian gunung Prau dari jam 4 sore. Sampe di puncak waktu maghrib sekitar jam 6 sore. Katanya waktu tempuh 2 jam ini termasuk cepet loh, kalo pemula biasanya dibawa santai jadi 3-4 jam.. tapi nyatanya kita bisa 2 jam saja, pemirsa! hahahaha *evil laugh*

Ramainya puncak gunung Prau saat libur panjang hari raya Natal 2015
Ramainya puncak gunung Prau saat libur panjang hari raya Natal 2015

Ramainya pendaki Prau gak menyurutkan senengnya kita di sana. Ditemani malam cerah dengan kilauan bintang di langit, hembusan angin malam yang kencang hingga membuat tenda kita terburai.. hahaha Oke, tujuan para pendaki di sini adalah untuk melihat sunrise yang katanya super duper keceh. Dan ternyata setelah pagi menjelang, rumor sunrise itu benar adanya! Sunrise di puncak Prau itu keren banget, dengan semburat warna ungu, oren, dan biru yang menyeruak dari balik gunung, sungguh luar biasa.

Sunrise di Puncak Prau yang tengah diabadikan
Sunrise di Puncak Prau yang tengah diabadikan

Tetep ya, bagusnya pemandangan di sebuah foto gak akan bisa ngalahin bagusnya jika kita bisa melihat pemandangan itu langsung melalui mata kita sendiri. Selain sunrise-nya yang hits, Prau juga punya bukit teletabis. Pas kita ada di sini, kebetulan lagi banyak bunga Daisy yang tumbuh jadi makin keren aja ngeliat bukit lapang yang luas ditumbuhi dengan bunga-bunga pink cantik.

Main bunga-bunga Daisy di Bukit Teletabis, Gn. Prau
Main bunga-bunga Daisy di Bukit Teletabis, Gn. Prau

Kayaknya perjalanan saya dan teman-teman di puncak Prau gak lama lagi. Setelah main-main di bukit teletabis, langsung aja deh kita turun gunung karena udah ada destinasi lain yang harus kita sambangi. Turun gunung Prau gak lama gengs, sejam setengah udah sampe bawah lagi kok, capek? enggak secapek nanjaknya yang jelas.. hahaha Kita turun Prau sekitar jam 11-12.30 siang.

Suasana saat menuruni gunung Prau
Suasana saat menuruni gunung Prau

Sesampainya kita di bawah, kita menyambangi basecamp Prau terlebih dahulu untuk makan siang dan beberes badan alias mandi.. Yah tau lah ya di atas gunung itu gak ada toilet umum, jadi udah dari semaleman gak mandi.. Jadi jangan dibayangin ini badan udah bau dan lengket kayak apa.. hahaha

****** Harap selalu sedia tissue basah saat naik gunung untuk cuci muka, cuci tangan, dan cebok ya.. Terutama buat cewek-cewek nih, hukumnya wajib!

Sip, udah beres makan dan mandi, kita siap untuk menuju Candi Arjuna, destinasi kita selanjutnya. Sekitar jam 2 siang, kita semua udah jalan menuju Candi Arjuna dari basecamp Prau dengan numpang naik mobil pick-up yang isinya penuh dengan ibu-ibu bertopi sawah. Ini agak gila sih, diliatin banyak orang.. haha Tapi oke lah, demi menghemat pengeluaran jadi harus berani malu!

Gak sampe 30 menit perjalanan, kita udah persis di depan gerbang masuk Candi Arjuna. Gak ke Dieng katanya kalo gak ke Candi Arjuna, begitulah kira-kira.. Jadi kebayang yah tempat ini akan serame apa, di saat libur long weekend hari raya Natal.

Candi Arjuna yang ramai pengunjung
Candi Arjuna yang ramai pengunjung

1 jam telah berlalu, dan kita semua bosan di sini karena gak ada spot foto yang kece, terlalu banyak orang.. hahaha Jadi kita semua pergi meninggalkan tempat ini dengan segera, ke mana setelah ini? Menurut kepo-kepo di om gugel dan instagram, ada spot di Dieng yang masih belom populer, letaknya persis dekat dengan Candi Arjuna, yaitu Bukit Pangonan.

Bukit Pangonan ini semacam padang savanna yang dikelilingi oleh bukit berhutan pinus. Bagus banget tempatnya, harus banget sekarang jadi tempat wajib dikunjungi kalo ke Dieng. Waktu saya ke sini, rumputnya lagi mau menguning.. Makin dramatis dengan suasana sore yang lagi adem-ademnya.

Salah satu sudut dari Bukit Pangonan
Salah satu sudut dari Bukit Pangonan
Padang savanna dari bukit Pangonan
Padang savanna dari bukit Pangonan

Rute menuju bukit Pangonan ini sebenernya mudah, dateng aja ke komplek Candi Arjuna, jalan terus sampe pintu belakang yang ada museum Kailasa Dieng, dari sana bisa langsung naik ojek (kalo kalian manja) atau jalan kaki karena cukup dekat kok lokasinya, sekitar 200-300 meter ajah.

Dari gerbang masuk bukit Pangonan, kalian mesti harus jalan nanjak masuk hutan selama 40-45 menitan untuk bisa sampe ke savanna-nya.. Macem naik gunung lah ya tapi versi ringan.. hehe Pokoknya kalo ke sini harus sedia cemilan, minuman, atau makanan kalo mau lama, karena emang gak ada yang jualan di sepanjang perjalanannya dan di tempat savanna-nya. Hal yang paling oke di sini sebenernya camping, cuma ya kalo cuma satu tenda aja kayaknya horor banget gengs, secara masih sepi banget, tapi kalo rame sih enak karena memberikan nuansa yang berbeda dari puncak gunung.

Yap! Sampe di sini aja kali ya cerita dari saya, karena pangonan ini merupakan destinasi terakhir dari perjalanan saya dan temen-temen ke Dieng. Setelah dari pangonan, saya kembali ke homestay, nah homestay-nya ini udah beda dari yang pertama kita tinggali, karena dekat dengan jalan raya maka kita tinggal di sekitar basecamp Prau. Setelah ini… tidur, bangun, PULANG!

============================== End of Story ==============================

Yuk, kenalan dulu dari temen-temen saya selama perjalanan di Dieng ini:

  1. Arizal Khoironi (IG: @arizalkyo)
  2. Mia Mayasari (IG: @myaamiaa)
  3. Tejo Sandi Saputra (IG: @sandiputtra)
  4. Unne Sukmayanti (IG: @unnesukma)
  5. Erlina Permatasari (IG: @erlinapermatasari)
  6. Saya sendiri, Doni Laksono. Info sosmed bisa cek menu di atas ya 😀

Monggo dikepo akun IG-nya.. Siapa tau bisa berteman dekat atau bahkan berjodoh~ who knows~

Pantengin terus cerita seru saya di website ini ya, karena akan berbeda dengan apa yang kalian temui di Instagram saya.. hehe Oke deh, saya pamit undur diri dulu, kalo ada yang mau tanya-tanya bisa comment langsung di bawah atau klik “Contact” pada pilihan menu di atas untuk lebih intimnya.

Sampai berjumpa di cerita-cerita perjalanan saya berikutnya! Bye folks~

Best Regards,

Doni Laksono