Jawa Timur

Tak Tahan Melihat Indahnya Alam Pacitan

Siapa yang nyangka kalau kota kecil Pacitan ini punya tempat keren? Jujur aja, waktu pertama kali nyeletuk kata Pacitan sebagai kota yang akan saya sambangi ke temen-temen reaksi pertama mereka pasti akan bertanya, “Ada apa di Pacitan?”, huft.. agak kesel sih dengernya karena saya udah semangat tapi malah pada gak tau bagusnya Pacitan kayak apa, alhasil harus jelasin dulu deh ke mereka.. blablablaa.. capek boss..

* Dear gengs, jangan pernah tanya ke saya “Ada apa di sana?” kalo saya udah menentukan tempat jalan ya.. Karena itu merusak mood seharian, oke bye~

** FYI, tiap akhir tahun saya selalu ada plan untuk ngebolang dan saya menyebutnya sebagai Big Trip (expense > Rp1,000K), ada juga Medium Trip (expense berkisar Rp300K s/d Rp1,000K), dan Small Trip (expense < Rp300K)

Yaudah, seperti biasanya nih, saya melakukan perjalanan ini saat libur long weekend hari raya Natal di tanggal 23 – 26 Desember 2016 (4D3N) bersama temen se-genk, dan kita menyebut ini sebagai Big Trip. Untuk jarak Jakarta – Pacitan yang lebih dari 600 KM, rasanya agak mustahil melakukan perjalanan ini yang hanya ada di sela-sela long weekend.. hahaha.. Well, buktinya saya dan temen-temen bisa melalui ini semua, mau tau kan ya gimana liburan kali ini? Yuk ah, kita lanjut langsung aja masuk ke hari pertama.

Hari pertama, 23 Desember 2016, ini adalah hari Jumat di mana masing-masing kita masih pada kerja, kecuali satu orang ada yang masih meneruskan pendidikannya di jenjang S2 SBM-ITB (kampus tercintah~ hahaha). Kita jalan berempat: Doni (saya sendiri), Sandi, Mia, dan Unne.. Saya, Sandi, dan Mia memang sudah base di Jakarta, sedangkan Unne yang masih kuliah S2 ini ada di bandung, jadi Unne harus ke Jakarta terlebih dahulu karena meeting point big trip ini ada di KFC GELAEL Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Processed with VSCO with c7 preset
Penampakan meeting point kita, KFC Gelael Gatot Subroto – Jakarta Selatan | Source: http://www.panoramio.com/photo/119582615

Tepat jam 7 malam, saya dan temen-temen berangkat menuju Pacitan. Di jalan-jalan kaliย ini, kita sengaja sewa mobil beserta supirnya, kenapa? Bukan mau hedon atau dibilang hidup gemah ripah ya, ini karena memang gak ada bus malam dari Jakarta ke Pacitan dan gak ada satu pun dari kita yang bisa nyetir mobil, alhasil harus sewa mobil + supir selama liburan ini berlangsung. Toh kalo dihitung uang pun budget transportasi ini akan sama aja.. hehe.. MANTAP GAN!

Perjalanan dari Jakarta menuju tempat kita menginap di homestay memakan waktu 18 jam. Macet bos! Beberapa titik ruas jalan ada truk tergelincir, belom lagi pake nyasar tengah hutan dulu.. huhu (kebayang gak mobil nyasar di tengah hutan kayak gimana?).

*** Jangan mengandalkan Google Maps ya, meski rutenya deket tapi.. wassalam.. Jauh lebih baik tanyaย GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) supaya gak dibawa nyasar ke hutan.. huhu

Okay, akhirnya kita sampai di homestay sekitar jam 1 siang, 24 Desember 2016.. Eh iya, kita menginap di Homestay area Pantai Watukarung, kenapa kok di sini? Karena pantai Watukarung belum begitu tersohor kayak pantai lainnya di Pacitan macem Pantai Klayar, Srau, Banyu Tibo, jadi di pantai ini tak begitu ramai meskipun kita berlibur saat long weekend.. hahaha.. Good choice lah ๐Ÿ™‚

Processed with VSCO with c7 preset
Homestay kita di Pantai Watukarung: The Sun The Trees and The Sea | Source: http://thesunandthetrees.com/
Processed with VSCO with c7 preset
Bale + Mushala di The Sun The Trees and The Sea Homestay | Source: http://thesunandthetrees.com/

Sekilas review aja untuk homestay ini, jujur gak nyangka bisa tinggal di tempat yang kece parah ini selama di Pacitan. Homestay-nya bernuansa kayu, terletak persis di pinggir pantai, jadi berasa liburan di Bali deh.. hahaha.. Fasilitasnya? Gak usah tanya lah ya, dengan harga yang sangat terjangkau, kita udah bisa dapet breakfast gratis dengan pilihan makanan sesuka kita, ada tempat parkir, sambungan WiFi yang ngebut parah, kamar mandi dalam, ada AC & kipas angin, dan TV kabel. Satu poin plus deh buat homestay ini karena sekamar boleh tidur berlima (sama Mpok Kokom, sang supir legendaris) tanpa tambahan biaya apapun.

**** Untuk yang mau ke sini, silakan Whatsapp Pak Muslim ke nomor 0811269478 untuk reservasi atau tanya-tanya lebih detail soal homestay-nya ya ๐Ÿ™‚

Lanjut, setelah menapakkan kaki di homestay, kita beberes barang bawaan, mandi, dan makan siang.. Lalu kita biarkan supir legendaris kita untuk beristirahat karena doi belom tidur semaleman, gokil bro! Yaudah, sekitar jam 2.30 siang, spot pertama yang kita kunjungi adalah Pantai Watukarung, karena berjarak hanya 10 meter depan homestay.

Processed with VSCO with c7 preset
Salah satu sudut pantai Watukarung
Processed with VSCO with c7 preset
Pantai Watukarung dari atas bukit

Gak berasa udah haha-hihi lama di pantai ini, gak seru kalo gak sunset-an. Kita ini segerombol anak-anak yang doyan banget explore, so kita gak akan sunset-an di sini. Ke mana kita? Cuss ke pantai sebelah.. Pantai Kasap!

Dari pantai Watukarung ke pantai Kasap sebetulnya deket, berjarak hanya 1-2 KM aja sih, cuma karena supir kita sedang bobo cantik makanya kita menggunakan ojek untuk ke sana, kalo jalan kaki? Hemm.. Bisa aja, cuma you know lah ya kita dari perjalanan jauh Jakarta – Pacitan jadi gak mau susah-susah dulu.. Hahaha.. Well, niat kita untuk ber-sunset-an ria, jadi kita tiba jam di pantai Kasap sekitar jam 4.50 sore biar gak lama nunggunya.

Oh iya, berdasarkan informasi dan observasi kita di sini, pantai Kasap ini lebih sepi lagi dari pantai Watukarung, masuknya aja mesti ngikutin jalan setapak di dalem semi hutan gitu (I love forest!) selama 10-15 menitan. Spot terkece di sini adalah dari atas bukit karena kalian bisa dapet view ala-ala Rajaampat dengan paduan rumput ilalang yang menguning. So beautiful! Tapi, di sekitaran sini gak ada perkampungan penduduk, apalagi homestay.. So, kalo mau ke pantai Kasap, kalian mesti bermalam di pantai terdekat, Watukarung.

Processed with VSCO with c7 preset
Bukit di pantai Kasap nih.. Berasa di New Zealand ya? Haha
Processed with VSCO with c7 preset
Spot sunset di pantai Kasap, view di depanย ala Raja Ampat loh!

Yap. Selesai sudah perjalanan hari ini setelah sunset-an di Pantai Kasap. Besoknya, kita akan explore ke 4 tempat sekaligus, buru-buru memang.. Mau gimana lagi, karena lusa paginya kita udah harus pulang lagi ke rumah masing-masing.. hiks.. Okeh, gak perlu lama-lama, abis dari sini saya dan temen-temen langsung balik ke homestay untuk istirahat.

============================== Istirahat, Tidur ==============================

Subuh di hari ketiga, tanggal 25 Desember 2016 yang bertepatan dengan hari raya Natal (selamat Natalan btw) saya dan temen-temen melanjutkan lagi perjalanan di Pacitan. Sekitar jam 5 pagi, kita udah gantian mandi untuk segera bersiap ke spot selanjutnya. 2 jam siap-siap, gak kerasa udah jam 7, okeh kita sarapan dulu di homestay. Gak lama, kita langsung pergi menuju spot selanjutnya, ke mana? Air terjun Tluvalley!

1 jam perjalanan kita dari Watukarung ke air terjun Tluvalley ini ya, jadi kita sampe sekitar jam 9 pagi. Air terjun Tluvalley, atau Grojogan Dhuwur, atau juga Grojogan Barong, terletak di desa Candi, Pacitan. Air terjun ini punya 3 nama seperti yang saya sebutkan tadi, yang paling beken untuk warga sekitar sebenernya Grojogan Barong, kalo Grojogan Dhuwur kayaknya hits untuk anak-anak kota di Pacitan, sedangkan nama Tluvalley adalah nama kece wisatanya karena ada plang nama Tluvalley di pinggir jalan untuk mengarah ke air terjunnya.

***** Rute menuju Air Terjun Tluvalley adalah dengan mengikuti arah ke Pantai Srau, sampai ke Balai Desa Candi. Depan Balai Desa ada belokan/turunan ke kiri (kalo dari Watukarung), ke kanan (kalo dari kota Pacitan) masuk situ, nanti ada pertigaan tajem ambil yang ke kiri, jalan sampai ketemu area persawahan, di sana udah tinggal jalan setapak aja ngikutin pipa besi sampe nemu air terjunnya

Processed with VSCO with c7 preset
Penampakan Air Terjun Tluvalley

Gak gampang loh untuk bisa sampe ke air terjun ini, karena belom terlalu ngehits jadi susah kalo mau tanya orang, jalan ke sini pun masih tanah merah, licin, apalagi pas udah mau sampe air terjunnya, kita mesti turun tangga bambu yang cukup curam. Di balik itu semua, tempat ini sangat rekomended untuk didatengin, tempatnya adem dan airnya biru banget loh.. Seger liatnya.

Oh iya, di sini cuma ada kita aja, bener-bener gak ada orang lain, gak tau deh kalo makhluk yang lain.. hehehe.. Sepanjang jalan ke sini, orang-orang pada nanya ke mana dan mau ngapain di air terjun, bahkan mereka ngasih wejangan untuk sangat berhati-hati karena tempatnya angker sodara-sodara. Konon, sehari sebelum kita ke sini ada yang meninggal karena kepleset di batunya yang licin.. huhu serem yak.. Tapi, selagi kita punya niat baik, gak nyampah, gak berkata kasar, dan main hati-hati sih semoga gak kenapa-napa ya. Untuk yang mau berenang di sini, pastikan kalian bisa berenang ya karena kolamnya sedalam 6-7 meter.

Lanjut ya.. Gak lama banget di sini, kita cabut lagi ke spot selanjutnya, kali ini tempatnya sangat hits se-Pacitan raya! Sungai Maron. Perjalanan dari air terjun Tluvalley ke Sungai Maron sekitar 1 jam. Kita tiba di sanaย jam 1 siang dan langsung menyantap makan siang terlebih dahulu sebelum kita foto-foto lucu di atas canoe.

Processed with VSCO with c7 preset
Naik canoe di Sungai Maron

Sewa canoe di sini murah loh kalo kalian naiknya ramean, soalnya mereka ngitungnya sewa per canoe, bukan kepala orangnya yang dihitung. Biaya sewa satu canoe di sini Rp100K. Sungainya pun cukup panjang, pulang-pergi pool 8 KM loh.. Oh iya, ujung dari sungai maron ini langsung bermuara ke Pantai Ngiroboyo, jadi kita naik dari pool dianter sampai ke muaranya, kemudian balik lagi ke pool. Worth It!

Processed with VSCO with c7 preset
Muara Sungai Maron berakhir di sini, Pantai Ngiroboyo

****** Untuk dapet warna air sungai yang bagus untung-untungan ya, saat saya dan temen-temen ke sini airnya cenderung berwarna hijau, ada lagi kalo yang keren banget ketika airnya berwarna biru, kalo lagi apes kamu cuma dapet warna air yang coklat keruh kayak kali ciliwung.. hahaha

Udah balik lagi ke pool, saya dan temen-temen ngelanjutin lagi perjalanan kita ke Goa Gong. FYI, goa ini hits banget loh, bahkan kayaknya ada istilah “belum ke Pacitan kalo belum ke Goa Gong”. Kebayang ya, saat libur panjang gini ke tempat hits akan kayak apa ramenya ๐Ÿ˜ฆ Tapi gapapa, karena kita jauh-jauh dari Jakarta makanya tetep kita hajar! Kita sampe di Goa Gong sekitar jam 2.45 sore.

Processed with VSCO with c7 preset
Salah satu sudut pemandangan di dalam Goa Gong

Goa Gong ini sudah sangat turistik, keliatan lah ya dari foto juga. Dindingnya udah banyak dikasih lampu-lampu cantik, ada jalan untuk pengunjung, bahkan ada kipas angin blower biar pada gak kegerahan di dalem goa! Hahahaha.. Keren? Iya sih keren, tinggal edit dikit udah cetar membahana kayak foto yang saya post di Instagram.. hehe..

Kenapa dinamakan Goa Gong? Simple aja, ada salah satu bagian di dinding goa itu kalo dipukul bisa mengeluarkan bunyi layaknya kita memukul gong. Saya sendiri udah buktiin kok, cuma waktu itu saking penuhnya dan pengen cepet-cepet keluar jadi gak ngerekam deh. Maapkeun yak.

Dari sini, kita keluar gong jam 5 sore, biasa mau sunset-an lagi di pantai, dan pantai terdekat adalah Pantai Klayar. Gak pake mikir panjang kita langsung jalan ke sana sebelum matahari bener-bener tenggelam.. Mepet banget sama waktunya ini, karena dikejar waktu, ngebut lah kita di jalan, sesampainya di sana waktu menunjukkan jam 5.15 sore. Masih ada matahari kok, yang gak ada itu space parkir untuk mobil kita.. Hahaha.. Tempatnya rame banget!

Processed with VSCO with c7 preset
Sunset di pantai Klayar

Waktu kita ada di sini, ada poin plus dan poin minus juga nih.. Kenapa? bagusnya, waktu ke sini ombak lagi gede banget jadi bagus ngeliat lautnya, sunset pun jadi makin dramatis dengan suara deburan ombaknya. Tapi, sialnya adalah karena ombak ini lagi gede banget, kita gak bisa ke seruling samudranya yang ada di bebatuan ujung pantai Klayar. Huft..

Nah, perjalanan ke Pantai Klayar ini menjadi spot terakhir yang saya & temen-temen saya kunjungi di Pacitan. Sedih memang kalo mengingat hari esok karena harus pulang lagi ke Jakarta! Huhuhu.. Yaudah, abis dari ini kita pulang ke homestay, makan malam, dan tidur!

============================== End of Story ==============================

Terima kasih ya buat kalian yang udah mampir dan baca cerita perjalanan saya di sini. Tiap ada kesempatan saya pasti akan share pengalaman menarik lainnya ya. Oh iya, trip saya ke Pacitan ini ditemani oleh temen-temen genk yang terbentuk semasa kuliah, mereka adalah:

  1. Tejo Sandi Saputra (IG: @sandiputtra)
  2. Mia Mayasari (IG: @myaamiaa)
  3. Unne Sukmayanti (IG: @unnesukma)

Semoga perjalanan saya berikutnya bisa ngajak satu genk full, 9 orang.. Aamiin!

Kalian ada pertanyaan? Komentar? Masukan? Boleh silakan sampaikan ke saya di kolom komentar di bawah atau klik “Contact” pada pilihan menu di atas ya ๐Ÿ™‚

Sampai berjumpa lagi di cerita perjalanan saya selanjutnya!

Best Regards,

Doni Laksono

Advertisements

11 comments on “Tak Tahan Melihat Indahnya Alam Pacitan

  1. Miss_ipung

    Doniii… Ini keren keren banget tempatnya.. Ajakiiin gw duung hehe

    • Doni Laksono

      Makasih banget Mba Ips udah mau baca yaa ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† Next time kita jalan-jalan bareng

  2. mau donk explore bareng public figure hietzz..:D

  3. Wah, viewnya keren bro. Laksana raja ampat. ditunggu tulisan-tulisan kece berikutnya hehe

    Jgn lupa singgah ke tempat kita >> kidalnarsis.blogspot.co.id

  4. Keren mas doni

  5. Pingback: Bercumbu Rayu bersama Alam Terbuka Ujung Kulon – Doni Laksono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: